Info Zonaku

Info Zonaku

Sebutkan dan jelaskan jasa-jasa yang diberikan oleh Bank Umum dan Bank syariah!

akuntansi bank dan lembaga non bank

Table of Contents

Dalam era ketidakpastian ekonomi yang terus berkembang, pemahaman mendalam tentang akuntansi menjadi semakin penting bagi individu dari berbagai latar belakang. Tak hanya bagi para profesional keuangan, tetapi juga untuk setiap individu yang ingin memajukan kehidupan finansialnya dengan bijaksana. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi betapa krusialnya pembelajaran akuntansi dalam upaya menyongsong masa depan yang lebih cerdas dari segi finansial.

Pengertian Akuntansi

Akuntansi adalah bahasa universal bisnis yang memberikan gambaran menyeluruh tentang situasi keuangan suatu entitas. Dengan akuntansi, kita dapat melacak, menganalisis, dan menyajikan informasi keuangan dengan tepat, memungkinkan pengambilan keputusan yang bijaksana dan strategis. Bahkan di tingkat pribadi, pemahaman tentang akuntansi membuka pintu bagi manajemen keuangan yang efektif dan membantu menghindari masalah finansial di masa mendatang.

Manfaat Pembelajaran Akuntansi:

  1. Peningkatan Pengelolaan Keuangan Pribadi: Dengan pemahaman akuntansi, setiap individu dapat mengelola keuangan pribadinya dengan lebih cermat. Mengetahui bagaimana menyusun laporan keuangan sederhana, merencanakan anggaran, dan melacak pengeluaran akan membantu menciptakan kestabilan finansial jangka panjang.
  2. Pengembangan Wawasan Bisnis: Bagi para calon entrepreneur, pengetahuan tentang akuntansi membuka wawasan tentang kesehatan finansial perusahaan mereka. Dengan memahami laporan keuangan, bisnis dapat beradaptasi dengan perubahan pasar dan membuat keputusan yang lebih cerdas dalam mengelola sumber daya.
  3. Peluang Karier yang Luas: Bidang akuntansi menawarkan berbagai peluang karier yang menarik. Bukan hanya menjadi seorang akuntan profesional, tetapi juga analis keuangan, konsultan, auditor, atau bahkan seorang pengajar akuntansi. Kemampuan akuntansi akan memperkuat daya saing di pasar kerja yang kompetitif.

Contoh Soal Pembelajaran Akuntansi:

Sebutkan dan jelaskan jasa-jasa yang diberikan oleh Bank Umum dan Bank syariah!

Jasa – jasa yang diberikan oleh bank umum, yaitu:

  • Tabungan

Tabungan merupakan salah satu jasa bank umum. Jasa ini merupakan simpanan uang di bank yang jika melakukan penarikan hanya dapat dilakukan berdasarkan persyaratan tertentu. Umumnya bank akan memberikan buku tabungan yang berisi informasi seluruh transaksi yang Anda lakukan dan kartu ATM lengkap dengan nomor pribadi (PIN).

  • Giro

Giro merupakan salah satu produk perbankan berupa simpanan dari nasabah perseorangan ataupun badan usaha dalam rupiah ataupun mata uang asing, yang penarikannya dapat dilakukan kapan saja, selama jam kerja, dengan menggunakan warkat cek dan bilyet giro.

  • Deposito

Deposito merupakan simpanan di bank dimana pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu tertentu (jatuh tempo) dan syarat-syarat tertentu. Jadi selama deposito belum jatuh tempo nasabah diboleh mengambil uangnya tersebut.

  • Pemberian Kredit

Pemberian kredit merupakan sejumlah dana yang disediakan oleh bank kepada nasabah dengan pemberian bunga, yang harus dilunasi kembali pada waktu yang diperjanjikan atau dengan cara angsuran.

  • Kliring

Kliring adalah sebuah cara penyelesaian utang piutang dalam bentuk warkat atau surat – surat berharga antara bank-bank peserta kliring. Penyelenggara kliring adalah Bank Indonesia dengan menyediaka tempat pertemuan bank-bank peserta kliring.

  • Inkaso

Inkaso merupakan jasa bank untuk penagiahn pembayaran atas surat/dokumen berharga kepada pihak ketiga di tempat atau kota lain di dalam negeri.

  • Letter of Credit (L/C)

L/C merupakan cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan beras dokumen dikirimkan ke luar negeri (kepada pemesan).

  • Bank Garansi

Bank garansi yaitu jaminan yang diberikan oleh bank atas dasar permintaan nasabah untuk memenuhi kewajibannya pada pihak lain apabila nasabah tersebut tidak mampu memenuhi kewajibannya. Pada bank garansi terdapat tiga pihak yaitu nasabah, bank dan penerima jaminan.

  1. Transfer

Transfer merupakan jasa bank yang berupa pengiriman sejumlah uang dari dan ke bank yang sama atau ke bank yang lainnya baik di dalama negeri maupun di luar negeri.

Jasa – jasa bank syariah, sebagai berikut.

  1. Tabungan syariah

Sama dengan pada bank umum, tabungan merupakan simpanan di bank yang penarikannya berdasarkan syarat tertentu. Saran penarikannya biasanya melalui ATM, buku tabungan (di bank langsung). Namun, pada tabungan pada bank syariah menggunaka prinsip al-wadi’ah dan al- mudharabah.

  • Giro Syariah

Jasa giro pada bank syariah menggunakan prinsip al-wadi’ah (titipan). Prinsip al-wadi’ah pada giro syariah merupakan kerjasama antara nasabah sebagai pemilik dana dan bank syariah sebagai pihak yang mengelola dana.

  • Deposito syariah

Deposito pada bank syariah berpengang pada prinsip al-mudharabah artinya perjanjaian antara penanam modal dan pengelola dana untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan antara kedua belah pihak, dengan nisbah keuntungan sudah disepakati sebelumnya.

  • Produk Jasa
    • Al – Wakalah yaitu nasabah memberi kuasa pada bank untuk mewakili dirinya untuk melakukan jasa tertentu. Misalnya pembukuan L/C, inkaso dan transfer bank.
    • Al – Hawalah yaitu jasa pengalihan utang – piutang. Transaksi ini lazim digunakan untuk membantu perusahaan utnuk mendapatkan dana tunai guna melanjutkan usahanya.
    • Al – kafalah , pada prinsipnya merupakan jasa garansi bank. Sebagaimana bank konvensional, bank syariah juga dapat memberikan jasa bank garansi, yaitu garansi bank kepada nasabahnya.

Al-rahn, pada prinsipnua adalah jasa gadai, yaitu utang dengan jaminan harta atau asset. Barang yang diserahkan sebagai jaminan harus memenuhi beberapa syarat.

Berdasarkan bacaan dibawah ini

Indikator Kesehatan Bank Saat Pandemi


Selasa, 28 Juli 2020 / 09:34 WIB

https://analisis.kontan.co.id/news/indikator-kesehatan-bank-saat-pandemi

KONTAN.CO.ID – Pandemi Covid-19 telah mengganggu kesehatan perbankan nasional melalui jalur pemburukan kualitas kredit. Upaya untuk mencegah penularan virus korona tersebut melalui pembatasan pergerakan masyarakat telah menyebabkan banyak korporasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) mengurangi atau bahkan menutupi kegiatan produksi/jasanya. Penjualan menyusut tajam dan akhirnya mengancam kemampuan mereka dalam membayar kewajibannya di bank.

Untuk mencegah agar pemburukan kualitas kredit perbankan tidak kian dalam, maka sejak Maret 2020 otoritas terkait telah memberikan lampu hijau kepada bank untuk melakukan restrukturisasi pada kredit yang terdampak Covid-19. Kualitas kreditnya pun tetap diperlakukan lancar. Kemudahan ini memang bersifat temporer, hanya berlaku selama satu tahun ke depan yakni hingga Maret 2021.

Selain itu, atas kredit yang telah direstrukturisasi tadi, perbankan nasional juga dibolehkan untuk tidak menambah pembentukan provisi atau Cadangan Kerugian Penyusutan Nilai (CKPN) kredit. Namun, dengan catatan bahwa bilamana debitur yang telah mendapatkan fasilitas restrukturisasi tersebut yang berkinerja baik pada awalnya, lantas diperkirakan menurun karena terdampak Covid-19 dan tidak dapat pulih pasca restrukturisasi/dampak Covid-19 berakhir, maka bank tetap wajib membentuk CKPN. Lalu, bagaimana dengan perkembangannya saat ini?

Berdasarkan data perbankan, jumlah kredit yang direstrukturisasi hingga Mei 2020 telah mencapai Rp 740,01 triliun atau 13,25% dari total kredit yang disalurkan. Kredit restrukturisasi tersebut telah melonjak pesat hingga 147,49% atau setara Rp 441,01 triliun ketimbang Februari 2020 (periode sebelum ketentuan restrukturisasi diberlakukan) yang mencapai Rp 299,00 triliun. Dari peningkatan tersebut, sebesar 97,07% nya atau setara Rp 428,10 triliun merupakan kredit restrukturisasi dengan kualitas lancar.

Apabila dilihat perkembangan bulan ke bulan mulai Maret hingga Mei 2020, peningkatan kredit restrukturisasi yang paling tinggi sebetulnya terjadi pada April 2020. Kala itu, kredit restrukturisasi melesat 61,33% atau Rp 196,48 triliun ketimbang Maret 2020 yang naik 7,15% atau Rp 21,37 triliun. Sementara kredit restrukturisasi yang dilakukan pada Mei 2020 naik 43,18% atau setara Rp 223,17 triliun, masih tinggi meski melambat ketimbang bulan sebelumnya.

Upaya perbankan melakukan restrukturisasi kredit tersebut telah berdampak positif dengan tertahannya pemburukan risiko kredit lebih dalam. Hal ini terlihat dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang relatif naik sedikit, dari 2,79% pada Februari 2020 menjadi 3,00% pada Mei 2020. Masih naiknya rasio NPL tersebut tidak lepas dari jumlah kredit bermasalah yang meningkat 8,72% atau bertambah Rp 13,46 triliun.

Indikator keuangan lainnya seperti rasio pendapatan bunga bersih (NIM) yang meski terlihat menyusut namun juga relatif tidak dalam. Pada Mei 2020, NIM industri perbankan sebesar 4,36%, sedikit turun dari posisi Februari 2020 yang sebesar 4,67%.

Bila dilihat dari nominalnya, penurunan pendapatan bunga bersih tersebut hanya sebesar 5,99% atau Rp 19,99 triliun, yakni dari Rp 334,02 triliun menjadi Rp 314,03 triliun. Gambaran ini menunjukkan bahwa skema restrukturisasi melalui penundaan pembayaran angsuran bunga relatif belum signifikan. Tampaknya, perbankan lebih memilih skema restrukturisasi kredit dengan penundaan angsuran pokok kredit, perpanjangan jangka waktu atau penurunan suku bunga.

Hal yang masih positif lainnya adalah penurunan pendapatan bunga bersih ini masih belum menggerus likuiditas bank secara keseluruhan. Kondisi ini tidak lepas dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang masih tumbuh positif yakni 8,89% secara tahunan pada Mei 2020 dan bahkan cenderung naik.

Di sisi lain, penyaluran kredit melemah, yakni hanya tumbuh 3,09% secara tahunan pada posisi yang sama. Hal ini berarti ada kelebihan DPK yang lantas ditempatkan bank pada alat likuid seperti Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini mengakibatkan likuiditas bank yang tercermin dari rasio alat likuid terhadap DPK yang kian membumbung tinggi mencapai 24,33%.

Kondisi yang sama juga terjadi pada indikator CKPN. Pada Februari 2020, bank telah membentuk CKPN hingga mencapai Rp 248,92 triliun. Dan pada Mei 2020, terdapat tambahan CKPN lagi sebesar Rp 21,24 triliun atau naik 8,53% menjadi Rp 270,16 triliun.

Tetap waspada

Tambahan CKPN tersebut sesungguhnya sejalan dengan tambahan kredit bermasalah yang mencapai Rp 13,46 triliun. Tertahanya peningkatan pembentukan CKPN membuat rasio permodalan perbankan (CAR) relatif tidak terpengaruh, masih tercatat tinggi meski hanya turun sedikit dari 22,27% pada Februari 2020 menjadi 22,14% pada Mei 2020.

Kendati begitu, bila kita mencermati indikator kredit berisiko (Loan at Risk) secara konservatif yang terdiri dari kredit bermasalah (NPL), kredit kualitas dalam perhatian khusus dan kredit restrukturisasi dengan kualitas lancar, maka sejatinya terdapat lonjakan yang tajam.

Pada Mei 2020, rasio kredit berisiko terhadap total kredit tercatat cukup tinggi, mencapai 19,21% atau meningkat pesat dari Februari 2020 yang baru tercatat sebesar 11,14%. Peningkatan rasio kredit berisiko tersebut memang dikontribusi dari peningkatan kredit restrukturisasi dengan kualitas lancar sebagaimana tersebut di atas.

Sementara tambahan CKPN untuk kenaikan kredit yang direstrukturisasi sepertinya belum dibentuk bank, terutama yang berkualitas lancar yang mendominasi kredit restrukturisasi perbankan. Hal ini juga yang menjelaskan mengapa coverage CKPN, yakni rasio CKPN terhadap NPL, relatif tidak berubah, bahkan sedikit menurun dari 161,25% (Februari 2020) menjadi 160,97% (Mei 2020). Hal yang sama juga terjadi pada rasio CKPN terhadap total kredit yang tetap rendah, meski sedikit naik dari 4,49% menjadi 4,84%.

Meskipun indikator penting (vital signs) yang menunjukkan kesehatan bank seperti kualitas aset, likuiditas dan permodalan tersebut tampak baik-baik saja, namun kewaspadaan dan pemantauan secara ketat tetap perlu dilakukan seiring dengan sumber masalah yakni pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir. Hal ini karena pelonggaran ketentuan prudensial tersebut sejatinya merupakan tindakan mengulur waktu (buying time) hingga satu tahun ke depan, sampai diperoleh gambaran yang jelas dan pasti tentang dampak pandemi Covid-19 yang sebenarnya.

Maka dari itu, ada baiknya terhadap kredit yang direstruktuisasi tersebut, bank tetap perlu berupaya untuk membentuk CKPN. Tentu dengan tetap menilai kondisi debitur yang sesungguhnya, sehingga tindakan lebih dini dapat segera dilakukan. Di samping itu, komitmen pemegang saham untuk menyuntik modal atau likuiditas tetap sangat diperlukan dan menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan bank, terutama dalam menghadapi serangan Pandemi Covid-19 ini.

Penulis : Ardhienus Asisten Direktur di Departemen Surveilans Sistem Keuangan Bank Indonesia

Uraikan dan jelaskan menurut peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 4/POJK.03/2016 tentang Penilaian Kesehatan Bank Umum:

  1. Mengapa kesehatan bank perlu dijaga?
  2. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh Bank yang sehat

a. berikut alasan mengapa perlu menjaga Kesehatan bank yaitu:

  1. menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank,
  2. sebagai indikator bagi OJK untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi dan permasalahan yang dihadapi bank serta menentukan tindak lanjut untuk mengatasi kelemahan dan permasalahan bank, baik berupa corrective action oleh bank maupun supervisory action.

b. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh Bank yang sehat, yaitu:

  • kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari Lembaga lain dan modal sendiri,
  • kemampuan mengolah dana,
  • kemampuan menyalurka dana kepada masyarakart,
  • kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain, dan
  • pemenuhan peraturan perbankan

FOLLOW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Terkait